Ada Apa Dengan Kampungku ?
Cerpen : Ahdi popos
Hari
ini aku merdeka dari pelajaran-pelajaran yang kerap kali mencekam fikiranku
dengan soal-soal dari guru, rumus-rumus yang membosankan dan teori-tiori yang
memuakkan, karena hari ini aku liburan sekolah,
tiba-tiba harum bumbu dapur menyengat hidungku, berbeda dengan harum bumbu
seperti hari-hari sebelumnya,” memangnya ada apa? Kenapa ibu memasak sesuatu
yang berbeda?” batinku menggerutu, kemudian aku keluar dari kamar menghambur ke
dapur, aku dapati ibu sedang sibuk mempersiapkan makanan,”nanti kamu ikut ibu
ya kesawa menghantar makanan ini untuk
pekerja kita dan bapakmu”sekilas ibu melihatku dan kembali dia di
sibukkan dengan pekerjaanya itu,” iya bu” jawabku singkat, aku membalikkan
badan menghilang dari tempat dimana asap-asap sering menari-menari dari tungku
pembakaran, aku masuk kamar dan mengambil buku Novel yang kemaren sore aku beli
dari toko buku, aku terbawa suasana yang menyedihkan, cerita cinta seorang
seniman musik yang mencintai seorang gadis keturunan garis biru,
Bagian pertama telah selesai aku
lahap tuntas, ibuku kembali memanggil dari sumber kepulan asap-asap kasih
sayang, aku akhiri membaca buku, bangkit beranja ke dapur “ayo nak kita
berangkat, kasian para pekerja dan bapakmu di sawa” ibu mengambil botol aqua
yang berisikan air sumur yang alami dan menyodorkan padaku, aku meraihnya dari
tangan ibu, ibu beranjak melangkahkan kakinya menuju dimana peluh berkucuran
mengalir di celah-celah kulit para pekerja dan bapakku, aku membuntutinya dari
belakang
Udara segar menari-nari di
pohon-pohon kelapa dan siwalan, aku menikmatinya terbebas dari cengkraman
polusi udara, deruh kenalpot dan panas besi baja, seperti minggu yang lalu di
kota mitropolitan Surabaya, sungguh sesakkan hidung dan bikin perut akan munta
di tiap-tiap jalan raya, burung-burung bernyanyi berdansa dengan orang-orang
kampung yang kehidupannya biasa dan sangat biasa atau kesakitan lantaran
pemerinta buta hanya ada uang di mata mereka, yang penting perut buncit, entah
seberapa lama aku dan ibu berjalan, akhirnya kami sampai di sawa dimana para
pekerja dan bapak bekerja, ibu meletakkan makanan yang telah di sajikan dengan
resep-resep terahasia hanya bapak dan ibu yang tau, di kubuk yang bapak bangun
sebulan yang lalu, akupun meletak botol aqua yang berisikan air tawar alah
madura di samping keranjang makanan itu, “mas berhenti dulu, makanan telah siap
keburu dingin” suara ibu yang manja menukik telinga bapak, hingga bapak
melesitkan matanya ke arah ibu, “ ayo makan somat, ajak semua” bapak memanggil satu
pekerja “iyak pak” somat menjawab, bapak berjalan ke pinggir sawa dan
meletakkan cangkulnya dipinggir sawa begitu juga para pekerja, semua telah
berkumpul di kubuk bambu, ibu mempersiap segalanya, aku membatu yang
ringan-ringan saja, seperti menurunkan piring dari keranjang dan menuangkan air
ke gelas-gelas,
Kemudian mereka melahap makanan itu
seperti musafir berada di gunung pasir, tapi menurutku itu wajar karena mereka
bekerja untuk menghidupi keluarga mereka, banting tulang dan mengucurkan peluh
di sekujur tubuhnya adalah air kehidupan, sedangkan mereka para kaum elit sibuk
melipat rupiah di kantong kemijanya sendiri yang tak tanggung-tanggung miliaran
jumlahnya, tapi mereka hidup sekarang di alam ini mujur karena keadilan di
negeri ini di perdaganggangkan, dan penjara tak sepenuhnya memenjara, aku
bangga dengan rakyat yang mencari kehidupan dengan cara usaha yang tak
merugikan saudaranya sendiri dan aku muak kepada mereka yang pura-pura jadi
wakil rakyat, aku meretap mereka di
dalam gubuk yang akur, bercerita tentang kehidupan di dunia atau tentang
ladang mereka yang mulai tumbu emas-emas dan mutiara-mutiara,
Di seberang jalan pak johar
berlalang entah mau kemana dia, dengan sebatang rokok menemani perjalanannya,
“pak johar sini dulu, mari kita minum kopi bersama-sama” bapak memanggilnya dan
pak joharpun mengamini panggilan bapak, dengan secangkir kopi dan sebatang
rokok mengepulkan asap kehidupan yang asri, seperti jelmahan surga yang di tempati
nabi-nabi,
Pak hisam memulai
pembicaraan tentang bantuan pada petani melalui kelompok tani “tadi malam ada
pengumuman, kita akan mendapatkan bantuan bibit jagung dan kedelai” katanya
dengan wajah penuh bangga karena sebentar lagi akan mendapatkan bibit unggulan
dari pemerinta demi kualitas panennya yang akan menjadi lebih bermutu, sambil
menyerubut kopi dan mengisap rokok di tangannya, “dari mana kamu dapat kabar
itu sam” kata bapakku bertanya penuh dengan tada tanya bergelayutan di udara,
karena penasaran siapa yang memberi kabar itu pada pak hisam,” kata ketua
kelompok tani tadi malam, kamu ngak datang ya tadi malam ke rumah makmun” dia
menjelaskan sambil menerbangkan tangannya ke udara, “ oh gitu ya” bapak
menjawab tak yakin akan apa yang di ucapkan pak hisam “kalian percaya akan
bualan itu ya” kata pak johar, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan
meratap pada pak hisam “apa yang membuat kita harus tak percaya akan kabar itu,
bukannya benar pemerinta mengeluarkan bantuan pada petani melaui kelompok tani”
kata pak hisam penuh yakin dan memang itu benar adanya bahwa pemerinta
memberikan bantuan bibit pada petani, aku hanya mendengarkan percakapan yang
mulai memanas karena yang satu penuh keyakinan akan mendapatkan bantuan itu dan
sedang yang lainnya begitu tak percaya, sesekali aku memperhatikan wajah-wajah
mereka, sesekali aku meratapi burung-burung yang berkicau berlari-lari di udara
hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya seolah burung-burung itu tak
mengisyaratkan beban yang bergelantungan di sayapnya, “heh kamu telah termakan
akan bualan dia yang hanya menyembunyikan ke busukanya di balik sorban yang
melingkar kepalanya” pak johar memalingkan wajahnya dari wajah pak hisam dan
menunjuk-nujuk, entah apa yang di tunjuk tapi aku dapat mengira pak johar
menunjuk kesebuah ara di mana rumah ketua kolompok tani itu berdiri, “mimang
kamu berapa lama suda ikut perkumpulan itu sam” pak hasan bertanya pada pak
hisam penasaran, “aku baru ikut seminggu yang lalu san” dia menjawab rasa
penasaran pak hasan “ satu minggu, ya pantas aja kamu percaya seratus persen
akan bantuan itu” pak hasan senyum-senyum saja pada pak hisam, tentu wajah pak
hisam penuh dengan tanda tanya yang mendalam akan sesuatu yang dia ingin tau,
kejadian apa yang telah terjadi,
Suasa di warung itu
hening beberapa saat, sedangkan tanda tanya bergelayutan di atap janur yang
mulai rapuk, pak hisam masih tenggelam dalam jawa penuh penasaran dengan apa
yang telah terjadi selama ini, akupun tak mengerti yang sebenarnya terjadi “ada
apa dengan kampungku?” desahku dalam fikiran, tiba-tiba pak hisam betanya untuk
memecahkan apa yang telah membuat fikiran terganggu, “ memangnya apa yang
terjadi?, kenapa kalian begitu sinis akan bantuan itu” katanya, matanya melotot
pada wajah pah johar, “sebenarnya tentang bantuan itu sudah lama ada kabar,
tapi ya sampai sekarang tak ada satupun yang sampai pada kami, makanya akupun
memutuskan untuk berhenti saja ikut kumpulan itu” kata pak johar dengan nada
penuh benci “ beginilah kampung kita, semua tidak beres, kamu tau di kampung
sebelah sudah beberapa kali mendapatkan bantuan itu, sedangkan di kampung kita
mana?” kata bapakku menerawang ke langit sesekali mengisap rokoknya, sekarang
pak somat angkat bicara yang sedari tadi hanya mendengarkan apa yang di perdebatkan
rekan-rekannya itu “sebulan yang lalu juga ada kabar dari ketua kelompok tani
itu, bahwa orang-orang yang memproduksi gula merah akan mendapatkan pantuan
banci besar, tapi setelah ditanya, jawabannya masih nunggu giliran, begitulah
jawaban yang di terimah anggota kolompok yang pekerjaannya setiap pagi dan sore
memanjat pohon siwalan untuk memeras bauh mayang dan siwalan” pak somat
menjelaskan akan bualan ketua kolompok tani itu yang hanya menyembunyikan bau
busuknya di balik kopya butih dan sorban yang melingkar di kepalanya, “aku
dengar dari temanku bahwa dia juga mengajukan proposal mushollah, yang suda
hampir roboh total itu, seminggu yang lalu temanku dapat kabar bahwa bantuan
itu sudah cair, tapi kata dia (kelompok tani) tidak dapat bantuan untuk
mushollah itu padahal yang sebenarnya ada dan suda turun dari memerinta” kata
pak johar pada rekan-rekannya di kubuk bambu itu, padahal dia seorang kyai anggaplah toko
masarakat di kampungku, aku jadi bingung akan kejadian di kampungku, tiap malam
minggu dia memberikan pengajian, yang menjelaskan halal-haram dan ajaran-ajaran
agama lainnya, “ya suda jangan kita panjang lebarkan persoalan ini yang penting
pak hisam suda tau” kata pak hasan pada rekan-rekannya, pak somat menimpalinya
“ iya benar kamu san, kalo kita hanya membicarakan masalah itu, sawa pak ahmad
ngak kelar-kelar dan bisa-bisa padinya ngak di tanam” kemudian mereka semua
ketawa bersama-sama, sedangkan aku hanya tersenyum saja dan di selah-selah tawa
penuh canda itu, fikiranku masih betanya-tanya Ada apa dengan kampungku?, bapak
dan para pekerja turun ke sawa dan mulai bekerja lagi, pak johar berangkat
entah kemana tujuannya, sedangkan ibu membereskan perabotan di kubuk bambu itu,
kemudian aku dan ibu pulang ke rumah, begitulah keadaan kampungku yang penuh
tanda tanya pada lingkaran sorban di kepala seseorang yang menjadi ketua
kolompok tani, ada apa dengan kampungku? Pertanyaan itu tetap berterbangan di
kampungku.
Madura-Surabaya
11 Shafar 1433 H
06 Januari 2012 M
Jika
setelah DUA BULAN cerpen ini belum dimuat, maka akan saya kirim ke media lain
NO
Hp: 087851925009
Email:
ahdipopos@gmail.com
No
rek: 6542-01-004115-53-8
Ahdi
popos adalah Alumnus Sanggar Conglet PP Al-In’am
Posting Komentar