Petugas Kantor Urusan Agama (KUA) Depok terus menyampaikan pada
masyarakat bahwa semua bulan itu baik untuk menggelar pernikahan.
“Saya sering sampaikan kenapa harus Besar [bulan haji] untuk
menggelar pernikahan, itu secara tidak langsung kami mengarahkan ke sana
[bulan Sura], bahwa semua bulan sebenarnya baik,” kata Petugas Kantor
Urusan Agama (KUA) Depok, Sleman Fatoni.
Hanya saja, Fatoni menyadari sejumlah orang memang masih banyak yang mempercayai tidak baiknya hajatan digelar bulan Suro.
Menurut cerita, kata dia, sejarah itu berawal saat zaman kerajaan di
mana kerajaan seringkali menggelar hajatan saat bulan Suro . Untuk
menghormati, masyarakat kemudian tidak menggelar hajatan.
“Saking tunduknya rakyat pada kerajaan sehingga menganggap sakral dan tidak berani menggelar hajatan,” ungkapnya.
Sri Suparni, salah satu pemilik Griya Rias Pengantin di Maguwoharjo
Depok Sleman mengatakan hal yang sama. Meski tidak sebanyak order saat
bulan-bulan lain, dalam satu bulan Suro rata-rata ia melayani rias
pengantin antara dua hingga lima mempelai. Bahkan Suparni mengatakan
salah satu saudaranya juga ada yang menikah pada bulan Suro.
“Suro memang paling sedikit order tapi dalam beberapa tahun terakhir
lumayan termasuk tahun ini,” ujar dia saat ditemui di Jalan Raya Tajem
Maguwoharjo.
Sumber : Kompas Berita

Posting Komentar